Sebagai tindaklanjut atas program SIG terkait energi baru dan terbarukan (EBT), IKSG mencoba menjajaki kemungkinan implementasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Selain untuk mengurangi biaya listrik, program ini sekaligus untuk memanfaatkan ruang terbuka yang masih ada di area perusahaan.
Namun untuk menuju kesana tentu perlu perhitungan yang cermat, diantaranya dari aspek anggaran investasi, potensi benefit yang didapat, hingga seberapa besar energi yang bisa tersubstitusi dari program ini, serta terakhir seberapa besar saving biaya yang bisa diperoleh atas implementasi PLTS di IKSG.
Untuk tujuan tersebut Senin (3/8) Manajemen puncak IKSG Ahmad Zulaihan dan Setyo Nugroho Haribowo, beserta sejumlah unit kerja terkait mengunjungi Proyek Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDII) yang dikembangkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Rombongan diterima Head of Energy & Mineral Resource Study Center Dedet Candra Riawan di kantor REIDII kawasan Kampus ITS Sukolilo, Surabaya.
Pada kesempatan tersebut Dirut IKSG Ahmad Zulaihan menyampaikan bahwa tujuan kunjungan ini adalah untuk menjajagi kemungkinan implementasi PLTS dalam proses operasional. “Terlebih biaya listrik di perusahaan kami merupakan komponen tertinggi setelah bahan baku,” katanya.
Untuk itu perlu dicari alternatif lain agar biaya energi bisa sedikit berkurang, salah satu alternatifnya adalah dengan memanfaatkan teknologi panel surya. “Namun dalam prosesnya tentu kami perlu kaji lebih jauh seberapa besar benefit yang akan diperoleh perusahaan atas implementasi program ini,” imbuhnya.
Menanggapi pernyataan tersebut Kepala REIDII Dedet Candra Riawan membenarkan pernyataan Zulaihan sebelumnya. Terlebih hingga saat ini investasi pengadaan peralatan ini saat ini masih cukup mahal. Namun demikian teknologi ini bisa dijadikan salah satu pilihan mengingat cuaca di Indonesia cukup mendukung.
“Kami siap membantu jika suatu saat perusahaan berencana mencoba menjalankan teknologi panel surya ini,” katanya. Dedet juga membenarkan pernyataan Zulaihan sebelumnya bahwa memang perlu kajian yang mendalam agar teknologi ini bisa benar-benar memiliki nilai benefitnya khususnya penurunan biaya energi.
Sekilas REIDII
Project Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDII) merupakan bagian dari program INSPIRASI (Indonesia Nanyang Technological University Singapore Institute of Research for Sustainability and Innovation) yakni program kerja sama ITS dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Proyek yang menempati areal 1,5 hektare di kawasan Kampus ini bisa disebut pusat riset, demonstrasi, dan salah satu pusat uji coba dan pengembangan sistem energi baru dan terbarukan di Indonesia.
Proyek prestisius yang pembangunannya direncanakan selesai pada 2028 ini memiliki sejumlah tujuan, diantaranya sebagai laboratorium hidup (living laboratory) atau tempat riset sistem operasi yang fleksibel untuk teknologi surya, agrivoltaik, dan kawasan kampus hijau (eco-campus). Sekaligus sebagai wadah kolaborasi global antar mitra intitusi riset baik nasional maupun internasional khususnya dari Jerman dan Singapura. (as)