Untuk menyiapkan mental karyawan yang akan memasuki masa pensiun, PT Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG) selenggarakan Pelatihan Pra Purna Bhakti. Diharapkan melalui pelatihan ini karyawan akan lebih siap menghadapi masa pensiun kelak.
Pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari (3-4/12) lalu di Hotel Lyn Tuban yang dibuka oleh Direktur IKSG Setyo Nugroho Haribowo. Program ini diikuti 14 karyawan yang akan mengakhiri pengabdiannya di perusahaan pada 2026. Tujuannya adalah untuk memperkuat kesiapan mental, meningkatkan literasi finansial, serta membuka wawasan peserta mengenai peluang aktivitas produktif saat pensiun.
Dalam sambutannya Setyo Nugroho menyampikan bahwa pensiun adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan dilewati setiap karyawan, hanya menunggu giliran. “Saat ini rutinitas kita adalah berangkat pagi dan pulang sore, nanti saat pensiun kita akan banyak di rumah,” katanya. Waktu berkumpul dengan keluarga akan lebih banyak.
Perubahan kebiasaan tersebut mungkin mudah untuk diucapkan, namun dalam prakteknya ternyata sulit untuk menyesuaikan. “Saat itulah seharusnya kita isi kekosongan waktu tersebut dengan aktivitas yang bermanfaat,” imbuhnya. Jadikan aktivitas ini untuk sebanyak-banyaknya mencari kebermafaatan dan keberkahan. Kalau dalam prosesnya menghasilkan anggaplah itu sebegai bonus. Tapi jangan dijadikan tujuan utama.
Melalui rangkaian kegiatan ini, manajemen berharap peserta dapat memasuki masa purna tugas dengan kesiapan yang lebih matang, baik dari sisi mental, finansial, maupun wawasan kewirausahaan. Pelatihan ini sekaligus bentuk nyata dan perhatian perusahaan dalam memastikan karyawan dapat menjalani masa pensiun secara produktif, sejahtera, dan tetap berdaya.
Kunjungan Lapangan
Selama dua hari pelatihan selain diberikan materi berupa kecerdasan finansial, persiapan mental dan kesehatan, juga dikupas tentang potensi yang dimiliki manusia yaitu power dan force (hari pertama). Dalam materinya Abdul Jalal instruktur utama pelatihan ini mengajak peserta untuk bisa mengenali sumber motivasi yang benar dalam menjalani hidup.
Setiap individu memiliki kendali penuh atas keputusan dan respons pribadi. Demikian pula hasil yang kelak akan diterima, semua tergantung pada individu. “Jadi jangan salahkan lingkungan jika kita menghadapi kegagalan dalam hal apapaun,” tegasnya. Pemahaman atas konsep ini memang dibutuhkan pola pikir yang lebih dewasa, positif, dan berdaya, terutama dalam menyambut fase kehidupan baru setelah berhenti bekerja.
Sementara dalam sesi kecerdasan finansial, Bang Jay, paggilan akrab instruktur, memaparkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang bijak, termasuk bagaimana menyusun anggaran, menilai prioritas belanja, serta mengelola risiko. Peserta juga dikenalkan konsep bahwa uang tetap bisa bertumbuh meskipun tidak lagi memiliki pendapatan rutin bulanan.
Untuk lebih menguatkan materi sebelumnya, pada hari berikutnya peserta diajak langsung kunjungan lapangan. Ada dua lokasi yang dijadikan contoh, yaitu produsen madu (Madu Savana) dan usaha Susu Moorni Indonesia. Kedua UMKM ini berada di sekitaran kota Tuban, yang memang dalam kegiatannya boleh dibilang sudah berhasil.
Dalam kunjungan ke Madu Savana, peserta memperoleh penjelasan terkait proses pengolahan produk, standar kualitas, hingga strategi pemasaran. Diskusi interaktif berlangsung untuk memberikan pemahaman mengenai potensi usaha madu sebagai peluang bisnis berkelanjutan.
Selanjutnya, peserta mengunjungi usaha Susu Moorni Indonesia untuk melihat secara langsung proses pengolahan, pengemasan, serta distribusi produk. Melalui dialog dengan pemilik usaha, peserta mendapatkan wawasan mengenai manajemen operasional serta tantangan yang dihadapi dalam bisnis berbasis pangan segar.
Dua UMKM yang dijadikan destinasi kunjungan tersebut merupakan contoh investasi yang sederhana, strategi proteksi keuangan, hingga peluang usaha berskala kecil turut dibahas untuk memberikan gambaran praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Namun untuk mencapai ke taraf itu butuh waktu dan kesungguhan. Bahkan juga diserta kegagalan,” tambah Bang Jay. “Pelatihan ini membuat saya semakin yakin untuk melangkah ke depan dalam menghadapi tantangan masa yang akan datang.,” kata Moh. Hasanuddin yang akan pensiun pada 8 Juli 2026. Tetapi ia menyadari untuk membuka usaha terutama setelah masa pensiun bukan persoalan mudah. (salma)